Jika kau tak pernah ada..

Jika semua yang kuterima darimu adalah kesalah-pahaman, maka maafkan hati yang mudah jatuh ini. Sebab sudah lama ia tak memilikinya. Dan aku lupa cara mengendalikannya.

Jika semua yang kuterima darimu adalah permainan, maka maafkan hati yang mudah nyaman ini. Sebab sudah lama ia tenggelam. Dan kau malah berlalu seenaknya.

Advertisements

Merayakan perasaan setahun lalu

Hari ini langit nampak berbeda. Abu-abu namun ragu-ragu. Seperti gejolak yang menghantam jantungku tatkala mata kita bertemu.

Perasaan repetitif yang selalu sulit kuterjemahkan kini hadir melalui sosokmu. Kutepis seada-adanya seolah-olah kau bukan waktunya.

Kau tahu pikiran dan hati tak pernah senada. Kau malah menyeretku pada rasa nyaman. Menyebar bunga-bunga cinta di pelataran.

Aku mengangkasa. Menghirup aroma dari jiwa-jiwa yang sedang jatuh cinta. Langit-langit kamar warna-warni. Buku-buku puisi merdu bernyanyi.

Tapi seperti sebuah senja yang merona di petang hari. Memancarkan gradasi merah muda dan jingganya kepada makhluk-makhluk penyendiri.

Indah. Terlalu indah. Sampai aku lupa ia hanya sementara. Kemudian ia tenggelam. Kau pun menghilang. Yang tersisa hanyalah patahan harapan dan imaji kelam.

(02:12 WITA; kalau kau membaca tulisan ini, percayalah aku pernah sejatuh itu padamu)

Realita Mimpi

Dari kemarin kata-kata tak kunjung datang. Mereka singgah di kepalamu. Menikmati bunga-bunga tidur yang kau sirami dengan debur ombak, dingin angin, jingga senja, terang bulan, dan semua hal yang kau rasa cukup menghiasi indah imajimu.

Namun kau lupa, pagi adalah sebuah alarm nyata yang merobek angan-angan semalam dengan teriknya dan kicau burung di luar jendela kamar. Adakah yang lebih buruk dari bermimpi? Ya. Kau yang sibuk terlelap lalu lupa cara mencintai realita.

(15:15 WITA; BANGUNNN)

Sudah Baca Puisi Semalam?

Selamat pagi kamu. Sudah baca puisi semalam? Aku menulisnya tepat di hari kita berkenalan. Juga puncak tertinggi sebuah kerinduan.

Tak ada diksi yang sulit. Aku tidak ingin kamu sakit kepala menerjemahkannya. Semua kalimat sederhana. Sesederhana cinta yang tumbuh dalam satu malam.

PHP

Nyaring bunyi tiktok pukul enam. Sejak semalam puisi lupa jam tidurnya. Lalu pagi adalah semangkuk sereal dengan susu bubuk kemasan. Tiang listrik bersenandung dengan burung-burung kecil yang hinggap di kabel-kabelnya.

Aku masih mengawang. Seperti bunga tidur yang enggan melepas kesunyian malam. Tapi jam dinding menuntut sebuah ketergesaan. Langkah panjang menyusuri terik mentari. Koridor adalah lintasan menuju kepastian.

Di sebuah ruangan aku terlantar sepi. Menerka-nerka seluruh kejadian. Kemudian seorang wanita melempar senyum tipis sembari berkata, “hari ini tidak jadi bimbingan”.

Nyanyian Sunyi

Ketika semua lagu cinta merujuk padamu

Aku membayangkan jarak tempuh rindu

Seperti sebuah ego dan keterasingan

Dimana kata telah berubah menjadi

Laut yang diam dan tenang

Kau dengar nada sumbang itu?

Aku menyanyikannya di sunyi hati

Sebagai suatu tanda kerinduan yang

Tak bisa lagi kupendam

(02:29 WITA; pura-pura sibuk bukan cara yang tepat)