Rindu dan Mimpi

Sekali waktu dirimu hadir. Memasuki alam bawah sadar. Menjelma bunga-bunga tidur. Berjaga-jaga hingga fajar.

Erat pelukku pada sang malam. Agar ia tak kemana-mana. Agar kau tak kemana-mana. Sebab mimpi adalah jembatan antara rindu dan perjumpaan.

Advertisements

Jalanan dan Perasaan

Di jalanan lengang ini, aku seperti menyusuri lorong waktu. Angin yang menerpa wajahku, temaram lampu jalan, juga langit-langit kelam masih sama seperti malam itu.

Tapi hari ini ada yang berbeda. Tidak ada terang bintang-bintang dan tidak ada kamu. Semuanya terasa hampa. Pun rindu yang memang tak ada guna.

Aku hanya ingin mengingatkan. Rindu itu repetitif. Ia ada dalam lagu-lagu kesukaanmu, rintik hujan, aroma parfum, dan jalan-jalan yang pernah kau dan dia lalui.

Ya. Seperti sekarang. Aku dan gejolak yang tak bisa dilawan.

Keputusan

Malam ini sudah kuputuskan. Tidak ada lagi lembar-lembar sajak tentangmu. Seperti kata Sukab dalam suratnya untuk Alina, untuk apa? Kata-kata tidak ada gunanya dan sia-sia.

Sekarang aku paham, mengapa orang-orang memutuskan untuk pergi tanpa mengucap sepatah kata.

Dan perihal kepergian, kurasa meninggalkan apa yang membuatmu terluka adalah keharusan. Untuk apa setiap hari berkawan dengan duka?

Maka ada baiknya aku pun pergi. Sudah cukup aku mencabik-cabik perasaan sendiri. Sedang di pikiranmu saja tak pernah terlintas kata peduli.

Maaf, jika aku terus meneriaki namamu dalam tulisanku. Aku hanya tidak tahu harus kuapakan perasaan ini. Aku tidak tahu.

Tapi, kurasa keputusanmu adalah yang terbaik untukmu. Aku senang jika kau pun senang. Ya. Senang. Sangat senang.

Melawan Rasa

Di setiap detik yang berdetak, percayalah aku sedang berusaha mengikhlas pada hal-hal yang tidak menjadi suratan.

Kau bisa bayangkan betapa rumit melawan jiwa yang enggan berdamai dengan isi kepala.

Hati begitu rapuh dan ringkih. Perasaan terlalu mudah diombang-ambing. Sementara pikiran menolak semua angan-angan manis.

Sepanjang malam aku berperang dengan pikiranku. Rasanya realita begitu kejam dan tajam.

Lantas, lemah jiwaku tidak sudi untuk mengalah. Ia menempatkan segala rasa di tempat paling tinggi.

Memaksaku berlarut-larut dalam luka. Membiarkan semua kesakitan mengalir dalam darah.

Percayalah, tak ada seorang pun yang ingin mati dengan lara di genggamannya.

Maka, biarkan aku memilih jalanku untuk merelakanmu. Sebab berlama-lama dalam duka pun aku jenuh.

Kelak

Aku mencatat segala lara yang pernah hidup dalam dadaku. Mengemasnya menjadi buku harian yang kelak akan kau baca ketika aku tinggal nama. Kemudian di saat itulah kau juga rasakan kepedihan menggerogoti jantungmu tatkala kalimat-kalimat itu meneriaki namamu.