?

hai, aku tanda tanya. aku hidup dalam kepala dan hatimu. kawanku adalah kesunyian. kita bertemu pada suatu sore ketika langit berwarna merah. kau sedang duduk menghadap senja. lalu bola matamu memantulkan cahaya kesedihan. dan pertanyaan yang sama kembali hati dan kepalamu lontarkan. mau sampai kapan ini kehampaan? kemudian hanya ada sunyi. sunyi sekali.

Advertisements

Kau, meski tak lagi sembunyi, tidak juga kutemukan

untuk apa lagi aku hidup pada dunia yang maya? jika linimasa adalah sebuah jalan lengang menuju jawaban dari ‘apa kabar’ yang kutulis pada kolom-kolom sunyi, kini rusak oleh penembak-penembak amatir dalam layar.

baru kemarin aku melihat pelangi tumbuh di atas kepalaku. sembari kau menanyakan apakah berat badanmu telah bertambah. lalu mataku merasa harus bertemu denganmu. tapi perasaan tak bernama kerap membuat ragu.

setelah malam itu, yang kau tinggalkan hanya sekumpulan rindu yang entah harus kuapakan. tak ada lagi jalan menujumu. kini kau benar-benar tenggelam dalam linimasa. lalu aku harus kemana?

(00:57 WITA; kabari, kutunggu)

r.i.n.d.u

aku masih bergulat dengan perasaan setahun silam. ada yang bergerak perlahan, lalu menyeretku pada sebuah ingatan. kita yang pernah lekat, kini sudah jauh berjarak.

lalu, apakah rindu masih punya tempat?

(04.30 WITA; jangan lupa shalat subuh)

Jika kau tak pernah ada..

Jika semua yang kuterima darimu adalah kesalah-pahaman, maka maafkan hati yang mudah jatuh ini. Sebab sudah lama ia tak memilikinya. Dan aku lupa cara mengendalikannya.

Jika semua yang kuterima darimu adalah permainan, maka maafkan hati yang mudah nyaman ini. Sebab sudah lama ia tenggelam. Dan kau malah berlalu seenaknya.

Merayakan perasaan setahun lalu

Hari ini langit nampak berbeda. Abu-abu namun ragu-ragu. Seperti gejolak yang menghantam jantungku tatkala mata kita bertemu.

Perasaan repetitif yang selalu sulit kuterjemahkan kini hadir melalui sosokmu. Kutepis seada-adanya seolah-olah kau bukan waktunya.

Kau tahu pikiran dan hati tak pernah senada. Kau malah menyeretku pada rasa nyaman. Menyebar bunga-bunga cinta di pelataran.

Aku mengangkasa. Menghirup aroma dari jiwa-jiwa yang sedang jatuh cinta. Langit-langit kamar warna-warni. Buku-buku puisi merdu bernyanyi.

Tapi seperti sebuah senja yang merona di petang hari. Memancarkan gradasi merah muda dan jingganya kepada makhluk-makhluk penyendiri.

Indah. Terlalu indah. Sampai aku lupa ia hanya sementara. Kemudian ia tenggelam. Kau pun menghilang. Yang tersisa hanyalah patahan harapan dan imaji kelam.

(02:12 WITA; kalau kau membaca tulisan ini, percayalah aku pernah sejatuh itu padamu)