Konspirasi Semesta

Kau tahu takdir selalu saja menakjubkan. Ia membaca hatimu, berkonspirasi dengan semesta, lalu kembali menghadiahkan sekotak rasa yang sudah tak sabar mengoyak malammu lebih dalam.

Kekacauanmu mengulang. Pertahananmu runtuh. Hanya menyisa pecahan-pecahan kecil yang esok pagi akan kau rekatkan kembali oleh kalimat-kalimat tabah yang muncul dari kepalamu.

Lihat ranting-ranting pohon yang kau temui di pinggir jalan sekitar kampus. Mereka tak pernah bersembunyi dari kesedihan sebab gugur daun-daun. Mereka rapuh dan patah.

Mencipta kepura-puraan di hatimu adalah sebab dari pertanyaan mengapa di kepalamu. Ia tumbuh besar menjadi rasa penasaran yang berujung kebingungan dan hampa.

Kau boleh bertanya mengapa semesta mempertemukanmu dengannya. Atau kau ingin menyimpannya saja? Agar mati kau diburu penasaran dan segunung tanda tanya besar.

(03:00 WITA, aku harus tidur)

Advertisements

Riuh

Aku dan pikiranku yang riuh

Menembus kemacetan ibu kota

Tanpa lawan bicara

Hanya ada musik khas angkutan kota

Yang cukup merusak gendang telinga

Lalu seratus meter di depan,

seorang wanita melambaikan tangan

Menahan laju kendaraan

Dengan cemas di keningnya

Aku juga cemas pada diriku

Yang entah ingin kemana

Kenangan masih saja menyeretku

Pada kisah yang belum cukup

untuk disebut “kita”

Tiba-tiba angin memaksa masuk

dari balik kaca jendela

Mengacau khayalku tentangmu

sembari berkata, “sudah waktunya,

mengikhlaslah”

Pertanyaan Langit

Aku memandang langit dari jendela kamar. Ditemani secangkir kopi susu yang sudah tinggal setengah. Aku tidak terlalu suka kopi hitam. Sebab pahitnya sama dengan harapan yang dipatahkan.

Kadang aku ingin seperti langit; saat bintang ingkari janjinya untuk datang, bulan tak sepenuhnya terang, dan senja yang menebar pesona lalu menghilang, ia tetap lapang.

Kopiku hampir habis. Namun mataku masih memaku pada langit. Lalu aku mulai bertanya pada diriku. Apakah langit juga butuh alasan? Apakah ada pertanyaan yang tak perlu jawaban?

Kupikir langit punya jawaban yang sama denganku.

Pulih

Kupikir sudah waktunya mengukir senyum di ujung senja

Merelakan matahari kembali ke peraduannya

Menikmati awan mendung dan deras hujan

Agar luruh segala kenang dan rasa

Agar airmata juga seirama dengannya

Sampai masanya ia reda, warna-warni tawa perlahan lahir

Tumbuh besar membendung duka yang selama ini hadir

Entah Ingin Kemana

Sejak kemarin puisiku hilang arah. Entah ingin kemana. Ada yang bersembunyi. Ada juga yang tumpah tak berisi.

Aku ingin berhenti tenggelam dengan puisi-puisi patah hati. Tapi kata-kata enggan diajak berkompromi.

Seolah kesedihan sudah menjadi nama tengahku. Dan luka-luka tak akan pernah sembuh. Mereka abadi.

Kadang aku benci diriku; keinginan berdamai dengan hati selalu dipatahkan oleh secuil kenangan manis.

Lalu aku kembali menulis kesedihan yang menderai di mataku. Melupakan semua kata bijak yang terkumpul di memori telepon.

Esoknya aku bangun dengan janji dan seulas senyum. Tekadku 45. Bahagia harus segera tercipta.

Tapi malam kembali sunyi. Hatiku kembali ringkih. Rindu bertandang dari segala sisi. Lalu, harus apa lagi?

Patah hati ini terlampau sering. Tapi melupa selalu saja sulit.

(23:03 WITA; menulis berarti mengingat kembali)