Mendengarkan Naif

aku menemukanmu di lagu-lagu melankolis yang mengalun dari kedai kopi kesayangan muda-mudi kota ini. begitu dingin. begitu lirih.

lalu pagi memecah jendela kamar. aku mendapati jantungku berhenti berdetak. ketika prasangka-prasangka benar adanya. kau sudah begitu jauh.

buta hati dari naif entah sudah yang keberapa. aku benar-benar larut bersama kebodohan masa silam. sembari memaki ingatan yang kadang melintas.

aku terus merapal namamu. sedang kau sibuk dengan kisah yang baru. ataukah yang lama? ah aku tidak pernah benar-benar tahu.

kurasa sebentar lagi pelupukku akan pecah. bukan. airmata ini bukan untukmu. ini untuk sebuah ketidakwarasanku yang sudah jatuh terlalu dalam padamu.

Advertisements

kau tahu orang-orang di luar sana sedang mempeributkan senja dan kopi? katanya puisi sudah kehabisan diksi. padahal yang diributkan juga tidak peduli.

ah bagiku tak masalah. mau senja atau kopi. mau hujan atau bulan. mau rindu atau sendu. selagi kau masih ada di bumi, kau akan selalu menjadi diksi dalam puisi.

?

hai, aku tanda tanya. aku hidup dalam kepala dan hatimu. kawanku adalah kesunyian. kita bertemu pada suatu sore ketika langit berwarna merah. kau sedang duduk menghadap senja. lalu bola matamu memantulkan cahaya kesedihan. dan pertanyaan yang sama kembali hati dan kepalamu lontarkan. mau sampai kapan ini kehampaan? kemudian hanya ada sunyi. sunyi sekali.

Kau, meski tak lagi sembunyi, tidak juga kutemukan

untuk apa lagi aku hidup pada dunia yang maya? jika linimasa adalah sebuah jalan lengang menuju jawaban dari ‘apa kabar’ yang kutulis pada kolom-kolom sunyi, kini rusak oleh penembak-penembak amatir dalam layar.

baru kemarin aku melihat pelangi tumbuh di atas kepalaku. sembari kau menanyakan apakah berat badanmu telah bertambah. lalu mataku merasa harus bertemu denganmu. tapi perasaan tak bernama kerap membuat ragu.

setelah malam itu, yang kau tinggalkan hanya sekumpulan rindu yang entah harus kuapakan. tak ada lagi jalan menujumu. kini kau benar-benar tenggelam dalam linimasa. lalu aku harus kemana?

(00:57 WITA; kabari, kutunggu)

r.i.n.d.u

aku masih bergulat dengan perasaan setahun silam. ada yang bergerak perlahan, lalu menyeretku pada sebuah ingatan. kita yang pernah lekat, kini sudah jauh berjarak.

lalu, apakah rindu masih punya tempat?

(04.30 WITA; jangan lupa shalat subuh)