Realita Mimpi

Dari kemarin kata-kata tak kunjung datang. Mereka singgah di kepalamu. Menikmati bunga-bunga tidur yang kau sirami dengan debur ombak, dingin angin, jingga senja, terang bulan, dan semua hal yang kau rasa cukup menghiasi indah imajimu.

Namun kau lupa, pagi adalah sebuah alarm nyata yang merobek angan-angan semalam dengan teriknya dan kicau burung di luar jendela kamar. Adakah yang lebih buruk dari bermimpi? Ya. Kau yang sibuk terlelap lalu lupa cara mencintai realita.

(15:15 WITA; BANGUNNN)

Advertisements

Sudah Baca Puisi Semalam?

Selamat pagi kamu. Sudah baca puisi semalam? Aku menulisnya tepat di hari kita berkenalan. Juga puncak tertinggi sebuah kerinduan.

Tak ada diksi yang sulit. Aku tidak ingin kamu sakit kepala menerjemahkannya. Semua kalimat sederhana. Sesederhana cinta yang tumbuh dalam satu malam.

PHP

Nyaring bunyi tiktok pukul enam. Sejak semalam puisi lupa jam tidurnya. Lalu pagi adalah semangkuk sereal dengan susu bubuk kemasan. Tiang listrik bersenandung dengan burung-burung kecil yang hinggap di kabel-kabelnya.

Aku masih mengawang. Seperti bunga tidur yang enggan melepas kesunyian malam. Tapi jam dinding menuntut sebuah ketergesaan. Langkah panjang menyusuri terik mentari. Koridor adalah lintasan menuju kepastian.

Di sebuah ruangan aku terlantar sepi. Menerka-nerka seluruh kejadian. Kemudian seorang wanita melempar senyum tipis sembari berkata, “hari ini tidak jadi bimbingan”.

Nyanyian Sunyi

Ketika semua lagu cinta merujuk padamu

Aku membayangkan jarak tempuh rindu

Seperti sebuah ego dan keterasingan

Dimana kata telah berubah menjadi

Laut yang diam dan tenang

Kau dengar nada sumbang itu?

Aku menyanyikannya di sunyi hati

Sebagai suatu tanda kerinduan yang

Tak bisa lagi kupendam

(02:29 WITA; pura-pura sibuk bukan cara yang tepat)

Minggu Rindu

Sunyi yang minggu. Terik pukul duabelas langkahku melaju. Di wajah debu-debu beradu.

Lengang dan tenang. Cukup ramai yang ada di pikiran. Bukan. Bukan penting persoalan.

Hanya soal rindu. Tidak besar. Tapi cukup membuat gusar. Sebab tak lahir kata pertemuan.

Semeja

Malam ini mataku dan matamu bertemu di satu meja. Di setiap kedipannya adalah sebuah pesan rahasia.

Malam ini senyumku dan senyummu bertemu di satu meja. Di setiap sunggingmu aku tak kuasa.

Malam ini cangkirku dan cangkirmu bertemu di satu meja. Tidak ada pahit. Tidak ada ampas.

Malam ini aku adalah pena, lalu kau selembar kertas. Kita bercinta dan melahirkan bait-bait indah.

Bagaimana kalau pada akhirnya…

Bagaimana kalau pada akhirnya aku adalah daun-daun gugur di tepi jalan yang menemani langkah-langkah gontaimu?

Bagaimana kalau pada akhirnya aku adalah senar gitar yang melengkapi nada-nada minormu?

Bagaimana kalau pada akhirnya aku adalah kepulan asap kretek yang kausesap di tiap harimu?

Bagaimana kalau pada akhirnya aku adalah kedai kopi favorit yang menjadi rumah untuk kepenatanmu?

Dan bagaimana kalau pada akhirnya aku yang paling mencintaimu hilang ditelan kewarasanku?

Lalu yang tersisa hanyalah hampa dan sesal yang kerap menghantui sunyi malam-malammu.