Kau dan Laut

Kau menjelma lautan;

dingin dan tenang

Lalu aku manusia;

yang mencintai

ketenangan

tanpa pernah kutahu

ada gejolak apa

di dalammu

Advertisements

Keputusan

Malam ini sudah kuputuskan. Tidak ada lagi lembar-lembar sajak tentangmu. Seperti kata Sukab dalam suratnya untuk Alina, untuk apa? Kata-kata tidak ada gunanya dan sia-sia.

Sekarang aku paham, mengapa orang-orang memutuskan untuk pergi tanpa mengucap sepatah kata.

Dan perihal kepergian, kurasa meninggalkan apa yang membuatmu terluka adalah keharusan. Untuk apa setiap hari berkawan dengan duka?

Maka ada baiknya aku pun pergi. Sudah cukup aku mencabik-cabik perasaan sendiri. Sedang di pikiranmu saja tak pernah terlintas kata peduli.

Maaf, jika aku terus meneriaki namamu dalam tulisanku. Aku hanya tidak tahu harus kuapakan perasaan ini. Aku tidak tahu.

Tapi, kurasa keputusanmu adalah yang terbaik untukmu. Aku senang jika kau pun senang. Ya. Senang. Sangat senang.

Melawan Rasa

Di setiap detik yang berdetak, percayalah aku sedang berusaha mengikhlas pada hal-hal yang tidak menjadi suratan.

Kau bisa bayangkan betapa rumit melawan jiwa yang enggan berdamai dengan isi kepala.

Hati begitu rapuh dan ringkih. Perasaan terlalu mudah diombang-ambing. Sementara pikiran menolak semua angan-angan manis.

Sepanjang malam aku berperang dengan pikiranku. Rasanya realita begitu kejam dan tajam.

Lantas, lemah jiwaku tidak sudi untuk mengalah. Ia menempatkan segala rasa di tempat paling tinggi.

Memaksaku berlarut-larut dalam luka. Membiarkan semua kesakitan mengalir dalam darah.

Percayalah, tak ada seorang pun yang ingin mati dengan lara di genggamannya.

Maka, biarkan aku memilih jalanku untuk merelakanmu. Sebab berlama-lama dalam duka pun aku jenuh.

Kelak

Aku mencatat segala lara yang pernah hidup dalam dadaku. Mengemasnya menjadi buku harian yang kelak akan kau baca ketika aku tinggal nama. Kemudian di saat itulah kau juga rasakan kepedihan menggerogoti jantungmu tatkala kalimat-kalimat itu meneriaki namamu.

Sebuah Pilihan Untuk yang Ditinggalkan

Barangkali kau tak tahu rasanya. Ketika seseorang terlampau lama berkawan dengan sepi, lalu tersentuhlah inti jantungnya oleh sosok yang tidak pernah diduga. Harapan-harapan begitu manis sampai ditinggalkanlah ia dengan tanpa sepatah kata.

Kau boleh bilang ia bersalah. Menutup logika dan menaruh harap terlalu tinggi pada manusia. Tapi apa yang bisa dilakukan dengan jatuh hati yang tiba-tiba? Kau tak berpikir ini sepele, bukan? Lagipula tak ada satu pun yang mampu melawan gejolaknya.

Sejak itu, keheningan di antara mereka cukup panjang. Semacam sebuah jembatan yang terbuat dari ego masing-masing. Tapi ia-yang ditinggalkan, pernahkah kau tahu perasaannya? Betapa kesedihan nampak benar di matanya. Walaupun senyum tak pernah hilang dari wajahnya.

Setiap malam ia meratap pada kekecewaannya. Bersedih akan sebuah keputusan. Menurutmu apa yang bisa diharapkan dari seorang yang dikoyak-koyak perasaannya? Tidak ada. Ia hanya mampu menulis kalimat-kalimat bijak untuk menghibur dirinya.

Aku pernah patah hati. Kau pun pasti pernah merasakannya. Seberapa sering patah hatimu? Sekali? Dua kali? Ahh..tak peduli sekali-dua kali. Yang namanya patah ya patah. Sakit. Perih. Benar, kan?

Tapi sudahlah. Toh setiap manusia bisa menjadi keparat. Aku, kamu, dia, ataupun mereka. Sebab hidup adalah persoalan memilih. Menetap atau pergi. Meratap atau bangkit. Mendendam atau ikhlas. Tentukanlah!

Repetisi Rindu

Di separuh jalan ini, kau lihat senyum-senyum simpul mengikhlas pada takdir. Menepis rupa-rupa kesedihan yang dijatuhkan pelupuk kepada sang malam.

Tapi, kau tak lupa bahwa rindu ini repetitif, bukan? Sebab kekosongan adalah awal dari mekar bunga-bunga di ingatanmu yang basah.

Jangan sendu dulu! Ingatlah ada rela yang kau tanamkan pada bait-bait doa di awal fajar sampai ke langit yang menguning di ujung matamu.

Nikmati saja gejolaknya. Sampai kau sadar, ini semua tak akan abadi.