Repetisi Rindu

Di separuh jalan ini, kau lihat senyum-senyum simpul mengikhlas pada takdir. Menepis rupa-rupa kesedihan yang dijatuhkan pelupuk kepada sang malam.

Tapi, kau tak lupa bahwa rindu ini repetitif, bukan? Sebab kekosongan adalah awal dari mekar bunga-bunga di ingatanmu yang basah.

Jangan sendu dulu! Ingatlah ada rela yang kau tanamkan pada bait-bait doa di awal fajar sampai ke langit yang menguning di ujung matamu.

Nikmati saja gejolaknya. Sampai kau sadar, ini semua tak akan abadi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s