Menjemput Kiriman

terik pukul dua di dermagamu. kau belum juga sandar. padahal ruang tunggu sudah terlalu asing untukku yang kehilangan identitas.

katamu kau hampir sampai. tapi di belakang pintu hanya ada orang-orang tua menjelma keterburuan. ransel, kresek, koper, semua berisi kecemasan.

aku mengenalinya sebab wajahmu ada di sana.

terik pukul dua lewat sedikit. ruang tunggu berubah menjadi ruang tanda tanya. aku masih duduk dengan aroma roti kopi yang menusuk.

masih tidak ada tanda-tanda.

masih tidak ada siapa-siapa.

Surat Untuk Si Pencari

kepada kau yang mencari,

aku merasa dunia sedang tidak baik padaku. hati rasanya seperti patah. ruang-ruang dalam diriku kosong dan bergema. kepalaku penuh tanda tanya. berisik sekali! pertanyaan tentang pendidikan, masa depan, kehidupan, semua lalu-lalang. aku merasa entah ingin kemana.

kepada kau yang mencari,

jalan pulang di kota ini kini seperti neraka. ketakutan dan tuntutan sudah menanti di sana. kulihat wajah-wajah penuh harapan berkumpul di ruang tengah. dalam hati kurapal janji. tak ada kecewa dan air mata. bahagia harus selama-lamanya.

kepada kau yang mencari,

maaf telah melakukan percobaan menghilang. aku hanya mencari tempat untuk menangis yang tak bisa dijangkau oleh jiwa-jiwa ingin tahu. sebab aku sudah lupa cara untuk bercerita. mulutku tak bisa lagi memuntahkan kata-kata. semuanya kutelan. semuanya kubungkam.

kepada kau yang mencari,

simpan saja itu tanda tanya. aku sedang belajar menari dalam sebuah ketersesatan. aku hanya lupa cara bercerita. bukan lupa jalan pulang ke rumah.

Memendam Cemas

Melangkah kini hanya sebatas ruang yang sudah kukenal baik. Rasanya jiwa terlampau ngeri pada hal-hal yang tak tentu pasti.

Kata mereka putarlah rehat, agar cemas sedikit terangkat.

Tetapi malam tetap saja malam. Hingar bingar isi kepala masih saja terpendam. Entah raga ingin kemana. Kubiarkan saja semesta bekerja.

Adakalanya..

adakalanya tanda tanya dalam kepalamu menyatu dengan tanda yang lain menjadi tanda tanya yang lebih besar. seperti pertanyaan kenapa cinta itu biru. atau kenapa senja itu jingga. kau tidak akan pernah tahu. sampai nanti kau rasakan pedihnya ditinggalkan

Tidak ada jalan keluar

hari ini aku hanya ingin bersantai. makan setangkup roti, minum minuman bersereal, mendengarkan pamungkas dan membaca komik yang kubeli dua hari lalu.

tapi wajahmu masih ada di dinding kamar. tatapmu dingin dan nanar. aku ingin lari tapi ingatanku terlanjur berhamburan. perasaanku memenuhi ruangan.

tidak ada jalan keluar. aku terjebak bersama bayangmu dan perasaan yang tak pernah bisa kuterjemahkan.

Buta Rasa

sore tadi aku masih mengeja rasa. tak ada yang benar-benar bisa membaca ketika bola mataku memantulkan bayanganmu. bukan langit abu-abu itu. bukan pula hembus angin kencang itu.

di dalam kamar aku mengunci hati. merapikan kembali sisa-sisa ingatan yang ada. lalu aku bertanya pada buku-buku puisi di lemari, adakah hal yang lebih mudah dari melupa?

tidak ada, kata mereka. bahkan perasaan yang bergejolak di dadamu saat kau mengingatnya pun masih sulit kau beri nama.