Menemukanmu di Linimasa

Kemarin aku diserang ribuan tanda tanya. Sejak kau kembali di linimasaku, segala rasa naik ke ubun-ubun. Mereka pecah berhamburan. Lalu pecahannya membentuk wajahmu. Yang dingin dan acuh.

Aku mengganti rindu menjadi kata tanya. Yang kusimpan di sudut malam. Membiarkan ia berdiri. Menanti banyak jawaban. Yang suatu saat akan kau lontarkan. Dari bibir yang dulu kerap menyapa.

Adakah yang bisa mengganti ego menjadi sebuah percakapan? Melepas ribuan kata-kata. Menyaksikannya menari di antara pikiran kita. Sebab sudah terlampau lama kita dibungkam oleh anak kecil yang tak lelah bermain di jiwa.

Lalu, siapa yang ingin duluan?

Advertisements

Hilang Asa

Kudapati diriku berkeluh pada takdir. Mengadu tentang keberuntungan yang tak dijadikan nama tengahku. Hingga harapan kian hari kian jauh.

Bisakah kau rasakan? Patah hati atas segala usaha yang kaulakukan. Padahal sudah kau bumbui ikhlas dan harapan. Lalu semua berakhir dengan penolakan.

Pikiran-pikiran sudah lama meledak. Airmata pun lama-lama bosan. Semangat kian memudar. Segala elemen kehidupan berperang di kepala.

Lalu, apakah aku harus terus melangkah? Sedang aku sudah hilang asa dan waktu enggan bekerja sama.

Mengulang Tahun

Selamat pagi, (…)

Apa kabar hari ini?

Lihatlah keluar jendela

Ada doa-doa tumbuh

bermekaran sejak semalam

Harapannya semerbak

mengisi ruangan

Kulihat orang-orang menyiramnya

dengan banyak semoga

Lalu, ibu mengamini tetesnya

di sepertiga malam sujudnya

Meminta agar semesta

mengiyakan semuanya

Aku tak punya apa-apa

Hanya ada kata-kata

dan sebait doa;

Mendewasalah

Semoga bahagia

(Kepadamu yang sedang bertambah usia, rinduku masih sama)

Pada Masanya

Kurasa kesedihan hanya perlu waktu. Maka kubiarkan ia berlarut, menangis, dan meratap. Sampai pada masanya, ia kembali menyungging senyum.

Seperti sekarang. Aku dan kamu. Saling memberi makan ego. Membiarkan ia tumbuh besar. Kemudian menjadi anak kecil dalam diri kita.

Sampai pada masanya juga, kita tersadar. Betapa sia-sia ini semua.

Perjumpaan

Sejak kemarin rindu membisu. Dibungkam oleh sunyi yang lahir dari rahim aksara. Puluhan sajak terus patah. Kata-kata hanyalah angin yang menerpa di wajahmu kemudian sudah.

Hari ini rindu memuncak. Sejak perjumpaan yang tak kau inginkan terjadi. Tapi aku ingin. Walau perih menjalar. Walau airmata tertahan. Walau kenangan menampar.

Sudah cukup kita berdiam. Aku tak ingin mendendam. Lipatlah jarak. Hancurkan sekat. Berilah suara. Agar sunyi tak lagi mencekam.